(tulisan berikut ini sedikit panjang dan mungkin spoiler)
Cukup menyesal ketika diri ini baru dapat menyaksikan up in the air beberapa hari lalu. Dan setelah menontonnya gw memahami mengapa banyak orang yg memberikan tanggapan positif terhadap film ini. Beberapa blog film yg membuat ulasannya bahkan tidak sedikit yg memberikan nilai sempurna untuk film yg disutradarai oleh Jason Reitman ini (juno, thank you for smoking).
Gw ga akan terlalu banyak mereview tentang film ini. Karena menurut gw sudah banyak blog yg telah membahas film up in the air dgn sangat detail dan menarik untuk di baca. Link menuju review film ini dari beberapa blog tersebut bs kamu lihat di bagian akhir tulisan. Yg jelas, film ini telah membuat kesan mendalam dan mampu memberikan pandangan baru tentang hidup pada diri gw.
Gw berusaha utk memandang bagaimana film ini mencoba berbicara mengenai kehidupan. Persepsi dari setiap org pastilah berbeda mengenai film ini. Dan bs aja pendapat gw sama persis ataupun jauh berbeda dgn pendapat teman-teman sekalian.
Film ini mengisahkan tentang sesosok pria bernama Ryan Bingham (George Clooney). Ryan bekerja di perusahaan CTC (Career Transition Counseling). Sebuah perusahaan yang diminta jasanya oleh perusahaan lain utk memecat karyawan2 dari perusahaan lain tersebut. Jadilah Ryan bekerja keliling amerika utk memecat karyawan dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Dan dalam perjalanan memecat ke berbagai kota, Ryan kemudian dihadapkan dgn kehadiran orang-orang yg mulai mengusik zona nyamannya.
Alex, seorang wanita dewasa dan mapan hadir dalam hidup ryan serta mencoba mengusik zona nyaman ryan yg lebih menyukai kesendirian dan tidak mempercayai komitmen dgn lawan jenis. Natalie, seorang gadis muda yg hadir dgn inovasi baru mencoba mengganggu zona nyaman ryan dalam pekerjaannya. Dan pernikahan adik ryan yg harus ia hadiri walaupun ia sendiri tidak begitu dekat dgn keluarganya.
Ada momen2 menarik dalam film ini yg sepertinya coba menyindir apa yg terjadi dalam hidup. Seperti tujuan hidup ryan dgn “1o juta mil”nya yg mengusik tentang pentingnya eksistensi dalam pergaulan masyarakat sekarang. Lalu tentang komitmen dalam pekerjaan yg melebihi keinginan utk mengikat janji dgn lawan jenis. Sebuah hal yg sedang terjadi di negara2 maju belakangan ini.
Ketika masyarakatnya lebih siap mati utk pekerjaannya drpd harus sehidup semati dgn pasangannya. Perasaan takut utk di khianati dan kebutuhan yg meningkat sehingga merasa tidak mampu menafkahi keluarga menjadi penyebab utamanya. Pada akhirnya mereka memilih utk hidup dalam kebebasannya sendiri tanpa harus memikul tanggung jawab akan keberadaan suami,istri atau anak.
Sebuah percakapan menarik jg muncul ketika cara pandang Natalie mengenai impiannya utk mencintai seorang pangeran tampan yg kaya raya dan mampu memberikan anak2 yg lucu lalu hidup bahagia selamanya layaknya dongeng seperti mencoba menyindir pemikiran gadis2 muda pada umumnya. Jawaban Alex atas pernyataan Natalie kemudian mengambarkan suatu proses pendewasaan dari seorang gadis menjadi seorang wanita.
Ironi jg dihadirkan dalam film ini, ketika ryan harus memecat para pegawai dari tiap perusahaan yg tentunya tidak begitu saja bs menerima kenyataan yg terjadi. Ikatan personal coba dibangun ryan utk menenangkan emosi dari mereka yg dipecat dgn menuturkan kata2 manis yg sepertinya cukup ampuh digunakan ryan. Tidak sulit tentunya bagi ryan, mengingat ia mempunyai pekerjaan sampingan sbg seorang motivator.
Miris melihat bahwa yg dikatakannya pun belum tentu sesuai dgn kepribadian ryan sesungguhnya. Begitu pula Alex. Tapi bukankah setiap manusia semunafik itu?
Pada akhirnya film ini pun memberikan sebuah pelajaran utk kita bahwa sgt wajar apabila berharap diri ini akan berubah menjadi lebih baik kedepannya. Dan jikalau semuanya menjadi buruk di bagian akhir, bukanlah masalah utk kembali menjadi diri kita yg dulu, walaupun terkadang bukan itu yg kita inginkan.
Seorang teman pernah berkata seperti ini kpd gw, we can’t control what happens in our life, however we only react about it. Memang, diri ini hanya bs bereaksi atas apa yg telah ditetapkanNya. Tuhan ingin melihat bagaimana kita bereaksi atas segala cobaanNya. Berharap diri ini bs naik kelas dalam ujian hidup.
Intinya menjadi sebuah pilihan bagi kita apakah akan berpikir positif dan kembali berusaha atau terus menyesali yg telah terjadi dan menjadi takut utk melangkah. Pilihan yg berdasarkan cara pandang kita dalam memahami hidup. Cara pandang yg terbentuk dari pengalaman-pengalaman yg terjadi selama kita menjalani hidup. Entah, apakah itu pengalaman baik atau buruk? Dan benar atau salah?
NB : Gw suka dgn salah satu scene bagian ending dari film ini, ketika para pegawai yg dipecat menjelaskan tujuan hidup mereka. Saat seberapapun tebalnya selimut tidak akan mampu menandingi kehangatan dari pelukan pasangan hidup kita.
berikut beberapa blog yg mereview film up in the air
jagoanmovies, GilaSinema, Ajirenji, MovieTard.









belum sempat nntn film ini, thks f0r reviewnya, yah,,, ^_^
Oleh: Nitha on Agustus 2, 2010
at 7:07 am
wah, harus disegerakan ntn lho… salah satu film yg teramat bagus nih hehehe (lebay gw)
Oleh: kreshna on Agustus 2, 2010
at 7:09 am